Pemenuhan Kuota Pekerja Bagi Penyandang Disabilitas

Dengan adanya konvensi hak-hak penyandang disabilitas maka dengan ini perusahaan baik pemerintah maupun swasta diharapkan dapat merekrut pegawai dengan penyandang disabilitas ke dalam perusahaan mereka cek sumber. Kuota lapangan pekerjaan yang ada bagi penyandang disabilitas dapat terpenuhi dengan maksimal sejalan dengan informasi dan komunikasi yang berlangsung secara dua arah, terutama yang terpusat pada pemilik lapangan pekerjaan dengan penyandang disabilitas yang membutuhkan pekerjaan sesuai dengan kemampuan mereka.

Disabilitas bukanlah sebuah keadaan yang menghambat melainkan suatu prestasi dimana sebuah kemampuan melampaui keterbatasan seorang manusia, bahkan perusahaan dituntut untuk memahami kondisi penyandang disabilitas dan memberikan fasilitas yang sekiranya dibutuhkan penyandang disabilitas yang bekerja di perusahaan mereka.

Selain dari pemahaman terhadap individu disabilitas, terdapat juga pemahaman terhadap lingkungan luar dan sekitarnya yang mana lingkungan baru untuk pekerja disabilitas patut disinergikan sehingga penyandang disabilitas yang sudah mencapai usia produktif untuk bekerja mudah diserap oleh berbagai perusahaan. Bukan hanya sekadar pemenuhan dalam kuota pekerja melainkan mewujudkan keseteraan hak bagi para penyandang disabilitas sebagaimana yang sudah diatur oleh Undang-Undang Negara. Ada jaminan tersendiri bagi perusahaan dalam memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat yang menyandang disabilitas. Kebijakan ini diharapkan dapat diterapkan oleh setuap perusahaan tanpa takut untuk menghabiskan uang perusahaan karena fasilitas bagi para penyandang disabilitas adalah yang paling penting sehingga mereka bisa merasa aman dalam bekerja juga merasa nyaman dalam melakukan pekerjaan mereka.

Memang ada alasan kenapa angka partisipasi terhadap pekerja disabilitas minim, karena memang dari sejak mendapatkan pendidikan, bagi para penyandang disabiitas lebih minim dibandikan dengan non-disabilitas, ini yang menjadi hambatan bagi penyandang disabilitas kurang keterampilan dalam dunia pekerjaan. Bahkan dari tingkat Sekolah Dasar sudah mencapai angka 54,26% untuk tingkat pendidikan penyandang disabilitas secara minim, angka yang minim ini berasal dari sikap mental warga negara yang sejak dini telah mengucilkan penyandang disabilitas, bahkan ketika anak-anak disabilitas ini lahir, mereka sudah merasakan diskriminasi. Ini adalah sebuah tugas yang sangat penting bagi wara negara untuk aktif dalam memerangi perang mental yang dapat mengakibatkan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas. Ejekan mengenai fisik dan mental juga menjadi penghambat dalam berkembangnya kemampuan penyandang disabilitas ketika mereka akan meraih pekerjaan di dunia kerja.